penggunaan jarum suntik tradisional menjadi problem yang kini mendapat perhatian world health organization (who) alcita-citannya menyebabkan penyakit menular pada beberapa kasus belakangan. untuk mengatasinya who mengusulkan agar jarum suntik diganti dengan jarum 'pintar' yang rusak sekali pakai.
who melaporkan kejadian penyebaran hiv (human immunodeficiency virus) di satu kampung di kamboja dan hepatitis c di nevada semuanya bercita-cital dari dokter yang berulang kali menggunakan jarum suntik. penggunaan jarum yang berulang ini dikatakan oleh who membuat 2 juga orang terinfeksi penyakit baru setiap tahun.
meski isu untuk tidak menggunakan jarum suntik berulang telah tersebar luas, nyatanya masih ada orang yang melakukan hal tersebut. oleh sebab itu pengenalan jarum suntik baru dengan jarumnya yang akan masuk ke dalam atau pendorong yang tidak mampu ditarik ulang setelah dipakai akan lebih efektif sebagai langkah pencegahan.
"dengan ini dibutuhkan akan membantu mengeliminasi 1,7 juta kasus hepatitis b, 300 ribu hepatitis c, dan 35 ribu hiv baru setiap tahunnya serta untuk penyakit yang tak kita miliki datanya mirip ebola dan marburg," ungkap kepala tim kesehatan injeksi who, dr selma khamassi, mirip dikutip dari bbc pada kamis (26/2/2015).
harga jarum suntik sekali pakai tentunya akan lebih mahal, namun who mengatakan penggunaan jarum baru akan lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan kasus infeksi penyakit baru.
who berjanji akan mendorong industri untuk perlahan mengenalkan jarum suntik yang baru kepada dunia medis internasional agar beban tidak terlalu berat. dr khamassi menegaskan sekali lagi bahwa hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit yang jikalau dibiarkan akan memakan biaya lebih banyak.
"jikalau kita bandingkan harga jarum suntik yang paling mahal dengan biaya peratawan satu kasus hiv, atau kasus hepatitis c, biayanya jauh tidak mampu dibandingkan," tutup dr khamassi.
who melaporkan kejadian penyebaran hiv (human immunodeficiency virus) di satu kampung di kamboja dan hepatitis c di nevada semuanya bercita-cital dari dokter yang berulang kali menggunakan jarum suntik. penggunaan jarum yang berulang ini dikatakan oleh who membuat 2 juga orang terinfeksi penyakit baru setiap tahun.
meski isu untuk tidak menggunakan jarum suntik berulang telah tersebar luas, nyatanya masih ada orang yang melakukan hal tersebut. oleh sebab itu pengenalan jarum suntik baru dengan jarumnya yang akan masuk ke dalam atau pendorong yang tidak mampu ditarik ulang setelah dipakai akan lebih efektif sebagai langkah pencegahan.
"dengan ini dibutuhkan akan membantu mengeliminasi 1,7 juta kasus hepatitis b, 300 ribu hepatitis c, dan 35 ribu hiv baru setiap tahunnya serta untuk penyakit yang tak kita miliki datanya mirip ebola dan marburg," ungkap kepala tim kesehatan injeksi who, dr selma khamassi, mirip dikutip dari bbc pada kamis (26/2/2015).
harga jarum suntik sekali pakai tentunya akan lebih mahal, namun who mengatakan penggunaan jarum baru akan lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan kasus infeksi penyakit baru.
who berjanji akan mendorong industri untuk perlahan mengenalkan jarum suntik yang baru kepada dunia medis internasional agar beban tidak terlalu berat. dr khamassi menegaskan sekali lagi bahwa hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit yang jikalau dibiarkan akan memakan biaya lebih banyak.
"jikalau kita bandingkan harga jarum suntik yang paling mahal dengan biaya peratawan satu kasus hiv, atau kasus hepatitis c, biayanya jauh tidak mampu dibandingkan," tutup dr khamassi.

0 comments:
Post a Comment